Meniti Senja di Kampung Ramadan: Jimmi, Pedagang, dan Dialog Kebersamaan

Kronikkaltim.id – Senja perlahan menyelimuti langit Sangatta Utara, menyisakan semburat jingga yang memantul di deretan lapak Pasar Ramadan. Aroma manis kolak, gurih gorengan, dan harumnya es cendol bercampur dalam riuh rendah suara pedagang yang sibuk melayani pembeli. Kampung Ramadan yang baru saja diresmikan di depan Kantor Kecamatan Sangatta Utara menjadi titik temu antara para pencari takjil dan pedagang yang menggantungkan harapan pada bulan penuh berkah ini.
Di tengah kesibukan itu, Ketua DPRD Kutai Timur (Kutim), Jimmi, hadir menapaki lorong-lorong pasar, menyapa pedagang dan pengunjung. Selepas pemotongan pita sebagai tanda peresmian Kampung Ramadan, ia langsung menyambangi lapak-lapak yang berjajar rapi, berinteraksi dengan para pedagang dan menyerap aspirasi mereka.
“Kita ingin memastikan pedagang bisa berjualan dengan baik dan pengunjung merasa nyaman. Pasar Ramadan ini punya daya tarik tersendiri karena masyarakat selalu antusias berburu kuliner khas berbuka puasa,” ujar Jimmi, seraya mengamati berbagai jajanan yang tersaji.
Tahun ini, untuk pertama kalinya, kawasan Kantor Camat Sangatta Utara dimanfaatkan sebagai lokasi Pasar Ramadan. Keputusan ini tak hanya memberi suasana baru, tetapi juga menghadirkan kenyamanan lebih bagi pedagang dan pengunjung.
Di salah satu sudut pasar, seorang ibu bersama dua anaknya tersenyum lebar setelah menemukan jajanan favorit mereka. Jimmi pun tak segan untuk berbincang dengan mereka, menanyakan kesan mereka tentang Pasar Ramadan tahun ini.
“Kegiatan ini juga bisa jadi daya tarik masyarakat untuk berkumpul dan menikmati suasana Ramadan. Kita harap tahun depan fasilitas pasar ini bisa lebih representatif agar pedagang dan pembeli lebih nyaman,” tambahnya.
Namun, di balik kemeriahan pasar, ada realitas yang tak luput dari perhatian Jimmi. Ia menyoroti bagaimana lokasi ini bisa saja digunakan sebagai wilayah kampanye, tetapi menegaskan bahwa Ramadan sebaiknya dimanfaatkan untuk kebersamaan dan ekonomi masyarakat.
“Ramadan ini bulan kebersamaan. Kita manfaatkan untuk berbagi dan saling mendukung,” tuturnya.
Sebagai bentuk dukungannya kepada para pedagang, Jimmi memborong beberapa hidangan berbuka puasa. Momen hangat terjadi ketika ia juga mentraktir para wartawan yang meliput kegiatan tersebut, menambah keakraban di antara suasana pasar yang semakin ramai menjelang azan Magrib.
Saat langit mulai gelap dan suara bedug pertanda berbuka menggema, Pasar Ramadan tetap hidup dalam semangat kebersamaan. Jimmi melangkah pergi, membawa suara pedagang, harapan masyarakat, serta kehangatan Ramadan yang selalu menjadi jembatan bagi silaturahmi dan keberkahan. (*)




