Tragedi di Kanal Bengalon: Ketika Alam Menggigit Kembali

Kronikkalti.id – Pada suatu sore yang tenang, Selasa 8 April 2025, jeritan anak-anak memecah sunyi di kawasan kanal Rawa Indah, Desa Sepaso Selatan, Bengalon. Tangisan itu bukan karena kalah bermain bola, tapi karena salah satu dari mereka, bocah 8 tahun bernama Nur Romadhon alias Mandon, tak kembali dari tepi air.
Ia hanya hendak mengambil bola yang terjatuh ke pinggir kanal. Namun, seperti telah tertera dalam ingatan panjang masyarakat pesisir dan rawa di Kalimantan, air bukan sekadar tempat mencari ikan. Ia juga menyimpan bahaya. Dan pada hari itu, bahaya itu muncul dalam wujud seekor buaya.
“Sudah diperingatkan temannya untuk tidak mendekat,” ujar AKP M. Yazid, Kapolsek Bengalon. Tapi Mandon tetap melangkah. Dan buaya itu, makhluk yang telah lama menempati kanal-kanal lembap Kalimantan, menggigit kakinya dan menyeretnya ke kedalaman.
Kisah tentang manusia dan buaya bukan baru di Kalimantan. Dalam banyak cerita rakyat, buaya kerap dipandang sebagai penjaga, pembalas, bahkan titisan roh. Namun ketika ruang hidup mereka menyempit dan kanal menjadi tempat lalu-lalang manusia, konflik seperti ini muncul tanpa aba-aba.
Upaya penyelamatan dilakukan. Warga, dalam kepanikan dan keberanian, menyetrum air dengan alat dari genset. Buaya itu berhasil ditangkap dan dibelah, tapi jasad Mandon tak ditemukan di dalam perutnya. Baru menjelang malam, jasadnya ditemukan mengambang, luka-luka di kakinya menjadi bukti sisa perlawanan.
Masyarakat Rawa Indah kini kembali diingatkan: bahwa hidup berdampingan dengan alam, termasuk predator alaminya, memerlukan kewaspadaan. Di tengah perubahan lanskap, pembangunan, dan eksploitasi alam, buaya—seperti juga manusia—sedang bertahan. Tapi ketika keduanya bersinggungan tanpa batas, yang lemah kerap jadi korban.(*)




